Menteri Kesehatan Republik Indonesia haruslah bertanggungjawab atas lambatnya Revolusi Mental di Sektor Kesehatan, dimana hal ini juga seiring sejalan dengan "kebingungan" implementasi Nawacita dalam berbagai program Kemenkes R.I. yang dalam pelaksanaannya tidak terfokus dengan baik dan tentunya terkesan tanpa perencanaan yang matang atau dengan kata lain seperti terburu-buru. Hal ini sangat terlihat dari munculnya program yang "serba instan" dan bahkan belum selesai terkoordinasi dan tersosialisasi dengan baik, sudah muncul lagi program lainnya yang malah menambah polemik dan tanpa didahului dengan perencanaan yang detil termasuk sosialisasi lintas stakeholder.
Dampaknya sangat terasa di sektor pelayanan kesehatan yang bagaikan berjalan dengan "merangkak dan tersendat-sendat". Sangat jelas terlihat hal ini karena kemampuan manajemen dari Menteri Kesehatan saat ini yang kurang mumpuni. Padahal pengalaman manajerial dan kemampuan koordinasi antar bidang secara internal dan lintas sektoral secara eksternal sangatlah menentukan dalam sukses atau tidaknya program yang akan dilaksanakan. Tumpang tindih ini bagi para praktisi manajemen sangatlah jelas terlihat, dimana ada suatu program yang belum selesai bahkan belum tersosialisasi dengan baik, tiba-tiba muncul lagi program baru yang terkesan terburu-buru bahkan diembeli dengan aturan yang sangat kental dipaksakan dan berbau tekanan.
Padahal di era reformasi ini, apalagi di era kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo yang begitu bekerja keras membangun negara ini dengan semangat Revolusi Mental dan program-program yang berlandaskan Nawacita, sangatlah mengutamakan kerja yang tuntas. Bahkan tentu saja dalam pelaksanaannya haruslah melakukannya dengan cara-cara yang elegan dan penuh dengan pendekatan yang rendah hati serta simpatik dan menghindari cara-cara yang terkesan dipaksakan dan bahkan dengan embel-embel sangsi ataupun hal semacam itu.
Jika Bapak Presiden tidak segera mengganti Menteri Kesehatan dengan figur yang menguasai ilmu dan pengalaman manajerial yang mumpuni, khususnya di bidang kesehatan, maka tak dapat dihindari hal ini akan menjadi batu sandungan bagi beliau.
Pengetahuan ilmu manajemen adalah hal yang paling penting dalam kepemimpinan dan bukanlah gelar atau ilmu kesehatan atau kedokteran klinik.
Seseorang dokter klinikus tanpa pengetahuan dan pengalaman manajemen yang baik, akan selalu terjebak dalam pemikiran bahwa segala sesuatu akan dapat segera diselesaikan jika sudah ada "diagnosisnya" dan tentu saja tersedia "obatnya", padahal hal itu tidak dapat diterapkan pada luasnya wilayah kerja Kementerian Kesehatan termasuk kompleksitas permasalahannya di lapangan. Hal yang paling sederhana yang menjadi "kelemahan" dari kepemimpinan Menteri Kesehatan saat ini adalah kurangnya informasi dan sosialisasi program ataupun kegiatan yang akan dilaksanakan ataupun yang telah dilaksanakan, jangankan terhadap rakyat kecil yang awam, bahkan kepada para tenaga kesehatan dan tenaga medis di daerah saja, seringkali sulit mendapatkan informasi tentang kegiatan pelayanan kesehatan ataupun aturan pelaksanaan yang terbaru dan bahkan anggaran untuk program-program tertentu. Hal ini sangatlah mempengaruhi dalam hal kecepatan dan ketepatan dalam menjalankan program pelayanan kesehatan ataupun dalam penuntasan program yang sedang atau sementara berjalan.
Semoga apabila Bapak Presiden dapat segera menemukan figur yang tepat untuk menjalankan amanah sebagai Menteri Kesehatan yang baru. Maka program-program yang tersendat atau yang berjalan lambat akan dapat dipercepat dan selesai sesuai dengan target yang telah direncanakan. Termasuk informasi dan sosialisasi program yang sementara dijalankan ataupun yang sudah selesai dikerjakan akan sampai dengan baik dan jelas kepada segenap level masyarakat Indonesia yang kita cintai ini. Karena itulah tugas dan amanah kita sebagai pelayan rakyat dan bukan sebaliknya menganggap diri kita adalah bos atau penguasa dari rakyat. Saya yakin Bapak Presiden akan segera mengambil langkah yang cepat, tepat dan bijaksana.
Hiduplah Indonesiaku!
Jaya-jayalah Bangsaku!
29 Juli 2017
James Allan Rarung
Rakyat Indonesia dan Praktisi Kesehatan
Sumber gambar : lingkarannews.com
