Kami melihat beberapa opini yang berkembang seperti itu, dan ini bukan hal yang baik. Pesan kami kepada teman-teman media massa dan publik Indonesia ada dua.
1. "janganlah karena nila setitik, maka rusak susu sebelanga." Jangan timpakan kesalahan satu-dua oknum dokter-perawat-bidan-apoteker kepada ratusan ribu lainnya.
2. "jangan hanya ributkan air keruh di hilir dan muara, sementara lumpur datang dari hulunya". Jangan ribut karena vaksin dan obat palsu dan berhenti disitu, padahal peran pengawasan dan pencegahan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan-lah yang harus diperkuat untuk lindungi rakyat.
Kita perlu bekerja sama. Kerja sama antara semua pihak yang berniat baik untuk masyarakat.
Jakarta, 16072016.
Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD.
Badan Data dan Informasi PB IDI.
NPA 1101.77358.
