Saat ini gejala klinis demam berdarah cukup bervariasi. Demam yang timbul bisa secara terus menerus, bisa naik turun dan bisa hanya 1-2 hari saja. Oleh karena adanya demam yang mendadak harus diwaspadai untuk kemungkinan penyakit demam berdarah sebagai penyebabnya.
Kriteria diagnosis yang masih digunakan untuk mendiagnosis demam Berdarah Dengue adalah sebagai yang ditetapkan oleh WHO. Menurut WHO, secara klinis jika seseorang terinfeksi dengan virus dengue sebagai penyebab penyakit Demam berdarah bisa tanpa gejala maupun dengan gejala. Yang bergejala dibagi 2 lagi yaitu Demam Dengue (DD) dan Dengue Haemorhagic Fever (DHF). Pasien dengan DHF biasanya dengan gejala yang lebih berat dan gejala perdarahan yang lebih jelas.
Diagnosis kasus Demam Berdarah Dengue ditegakkan jika terdapat Demam atau riwayat demam akut terjadi dalam 2-7 hari terakhir biasanya bifasik. Saat ini sesuai dengan klasifikasi WHO terakhir yang diterbitkan pada tahun 1997: derajat berat ringannya DHF dibagi menjadi 4. Berat ringannya penyakit ini didasarkan atas perdarahan yang terjadi, serta ada tidaknya gangguan sistim sirkulasi darah pada saat pasien tersebut masuk rumah sakit. Semakin berat kondisi pada saat masuk semakin tinggi derajat sakitnya dan tentunya hal ini berhubungan dengan terjadinya kematian pada pasien tersebut.
Selain demam tinggi yang mendadak pasien kadang kala juga merasakan gangguan pada pencernaan berupa nyeri di ulu hati, mual bahkan muntah, nyeri perut serta susah buang air besar, diare pun bisa ditemukan pada 5-6 % kasus DBD.
Selain gangguan pada pencernaan pasien dengan DBD juga bisa disertai keluhan kepala pusing seperti melayang, pegal dan rasa nyeri di otot. Pada penyakit Demam Berdarah Dengue yang berat setelah 2-5 hari demam dapat terjadi manifestasi perdarahan baik berupa bintik merah pada kulit terutama di tangan, kaki dan dada, mimisan, gusi berdarah bahkan sampai muntah darah. Bahkan jika terlambat bisa saja pasien datang sudah dalam keadaan syok ditandai dengan tekanan darah yang turun, ujung-ujung kaki dan tangan menjadi dingin, nadinya menjadi cepat. Kondisi pasien biasanya lemah dan tidak bertenaga.
