Hal ini bukan terjadi begitu saja. Ini adalah akumulasi ketidak percayaan masyarakat terhadap ketidak becusan BPOM dan pembiaran yang begitu lama terhadap yang namanya barang palsu.
Segala macam obat ada didaerah Pxxxxxx. Tidak perlu resep dokter, gampang sekali menunjuk ketidak becusan kerja institusi kita, dan itu dibiarkan.
Terus terang, saya sendiri tidak tahu apakah obat obat yang dimakan pasien saya palsu, sama seperti dokter anak tidak tahu vaksin yang digunakannya palsu karena dokter tidak ada yang terlibat dengan rantai pengadaan obat dan vaksin kecuali kalau dia manajemen di RS atau dokter praktek mandiri.
Kasihan benar jika yang bermasalah badan pengawasan sementara dokter dan RS nya dihakimi.
Silakan Polisi dan pihak berwenang usut tuntas hal ini. Tetapi PB IDI juga mempunyai hak membela anggotanya. IDI tidak cukup hanya membela dengan pernyataan normatif seperti menyesalkan, menolak dan kalimat kalimat yang sama. Badan hukum PB IDI bisa aktif turun ke pengadilan memproses menanyai dan mengamati proses peradilan konflik vertikal antara Ketua IDI Cabang Medan dengan anggotanya. Tetapi tidak proaktif turun kelapangan membela anggotanya.Kemana mereka pada saat konflik vertikal seperti ini.
Sungguh PB IDI dan dibawahnya hanya saling memerlukan pada saat muktamar. Selesai itu dan masing masing sudah tahu posisinya seperti yang direncanakan dan ditawarkan selesai sudah semuanya. Duduk manis dan tinggal kopi paste pernyataan normatif seperti jika ada masalah masalah sebelumnya
Wajar saja jika profesi ini tidak diharga.
Kami kecewa dengan hal ini.
