Jangan anggap remeh para Epidemiologis, atau para ahli wabah penyakit. Dengan dasar keilmuannya, mereka bisa melacak dengan cepat penyebab wabah keracunan di Chipotle dan menyimpulkan ada lonjakan microcephaly di Brasil. Namun dalam beberapa kasus, Epidemiologis belum bisa menyimpulkan perihal wabah, meski tahun dan bahkan puluhan tahun sudah berlalu. Ada beberapa kejadian wabah, yang seolah demikian rumit untuk dipecahkan ujung dan pangkalnya.

Berikut, beberapa catatan misteri ilmiah yang kejadiannya sampai saat ini masih membikin para ahli wabah dan peneliti garuk-garuk kepala.

1. Disease by Dust

Orang yang tinggal di Amerika Serikat bagian Barat sangat rentan terhadap infeksi jamur Coccidioidomycosis. Saking seringnya kejadian, sakit gara-gara jamur itu sampai dinamai Valley Fever atau demam lembah. Dalam catatan, demam semacam ini sudah terjadi selama lebih dari 100 tahun.

Telah terjadi lonjakan kejadian di Barat Amerika. Di Kern County, California, terjadi wabah di awal 1990-an dan awal 2000-an. Tercatat pula dua kejadian wabah Valley Fever melanda dua penjara di daerah itu dan menewaskan puluhan narapidana. Secara nasional, lebih dari 20.000 kasus dilaporkan pada tahun 2011.

Wabah penyakit muncul ketika spora jamur terhirup ke dalam paru-paru. Sampai saat ini belum ada penjelasan valid, kenapa debu jamur itu bisa membuat orang demam. Dalam sejumlah kecil kasus, belum ada pula identifikasi yang menjelaskan kenapa jamur bisa menyebar ke bagian lain dari tubuh. Kemudian memunculkan kondisi yang menyebabkan pembengkakan otak.

2. Polio Redux
Lebih dari 30 tahun berlalu, setelah kasus terakhir polio di Amerika Serikat, 20 anak-anak di California terjangkit penyakit melumpuhkan dan menyebabkan efek serupa penyakit polio. Salah satunya terjadi pada tahun 2014. Sejak itu Centers for Disease Control (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit memverifikasi 120 kasus yang disebut mielitis acute flaccid di 34 negara. Verifikasi itu menjelaskan, penderita yang kebanyakan remaja dan muda, mengalami lemah otot, kelainan sumsum tulang belakang, dan kesulitan berjalan yang biasanya berhubungan dengan polio. Anehnya, uji polio menyatakan hasil negatif. Dalam penelitian terbaru, beberapa dinyatakan positif enterovirus D68. dokter percaya virus ini kadang-kadang dapat menyebabkan cacat fisik. Tapi, hingga kini CDC masih mengatakan, “penyebab spesifik dari penyakit ini masih dalam penyelidikan.”

3. Strange Sleep
Antara tahun 1917 sampai tahun 1925, sekitar 1 juta orang di seluruh dunia terjangkit penyakit yang hingga kini belum diketahui secara pasti oleh para ilmuwan. Itu disebut Ensefalitis Lethargica. Kejadian berupa kelainan tidur yang berlangsung selama beberapa hari. Penderita mendadak mengantuk dan tertidur setelah makan, berjalan-jalan, atau berbincang-bincang. Sekitar setengah dari penderita kemudian meninggal. Mereka yang selamat kemudian menunjukkan gejala mirip Parkinson dan penyakit kejiwaan.

Pada saat itu, Neurologist asal Viena, Constantin Von Economo, menemukan pembengkakan hipotalamus pada otak pasien. Pada tahun 1960, ahli saraf Oliver Sacks kembali meneliti penyakit ini. Ia mencoba mengobati 60 penderita di rumah sakit Bronx dengan obat Parkinson jenis L-Dopa. Percobaan ini tidak membuahkan efek penyembuhan. Proyek penelitian kemudian menjadi subyek bukunya yang berjudul “Awakenings”. Yang kemudian dijadikan film dengan pemeran Robin Williams.

4. Teen Tics
Lengan yang reflek menggapai-gapai, menyentakkan kepala, dan gagap bicara adalah beberapa gejala penyakit ini. Penderitanya gadis-gadis remaja di Le Roy, New York, pada akhir tahun 2011. Dilaporkan, ada juga kasus yang menghinggapi satu laki-laki dan perempuan dewasa. Sebagian besar penderita yang gadis-gadis SMA, menunjukkan gejala aneh itu selama berbulan-bulan tanpa penyebab yang jelas.

Para orang tua menduga pabrik Jell-O yang bertanggungjawab atas kecelakaan kereta tahun 1970 dengan tumpahan bahan kimia sebagai penyebabnya. Sementara para Psikolog menyebutkan soal stres dan histeria massa. Psikolog menduga, saat liputan media meluas , banyak perempuan muda yang mengaku-ngaku mengalami gejala. Sementara para ahli saraf menyebutkan analisa terkait PANDAS, pediatric autoimmune neuropsychiatric disorders associated atau gangguan neuropsikiatri autoimun pediatrik terkait dengan infeksi streptokokus. Untuk saat ini, teori yang berlaku soal kejadian ini adalah “gangguan konversi”: dimana orang melakukan gerakan luar sebagai manifestasi stres internal.

5. Genital Fears
mendadak panik bukan hanya gejala yang bisa ditunjukkan perempuan. Beberapa kali dalam sejarah tercatat kejadian panik spontan oleh kaum laki-laki. Diantaranya saat sejumlah pemuda dan anak laki-laki mengklaim bahwa penis mereka menyusut, tercabut, atau hilang sama sekali. Sebuah kasus terkenal yang disebut “Koro” terjadi di Singapura pada tahun 1967. Dalam satu hari, hampir 100 orang pergi ke dokter karena merasa penis mereka menyusut, tercabut, atau hilang. Tak ada kejelasan, para ahli menyebutkan ratusan pemuda itu hanya korban kepanikan.

Wabah serupa sempat tersebar dari Eropa ke Asia dan berlanjut ke Afrika pada tahun 2003. Dan kebanyakan dokter meragukan jika wabah ini adalah jenis kecemasan akibat stigma budaya dan ketakutan sekitar kesuburan pria. Sampai saat ini, belum jelas apa penyebab dan bagaimana wabah kecemasan itu terjadi.

Sumber : Sikini